Fakta Tentang PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

Fakta Tentang PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

duniaserbaserbi.web.id – Fakta Tentang PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), PTSD atau post traumatic stress disorder adalah gangguan kesehatan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami trauma yang berat. Trauma ini biasanya disebabkan oleh kejadian yang mengancam keselamatan dirinya seperti bencana alam, kejadian yang menakutkan, bahkan suatu memori yang tak lagi Anda ingin ingat.

Fakta yang perlu Anda tahu tentang seputar PTSD

  • Apakah setiap orang yang pernah mengalami peristiwa yang traumatis akan mengalami PTSD?

Baca juga : 5 Penyebab Anak Berpotensi Menjadi Psikopat

Tidak semua yang mengalami trauma akan mengalami PTSD. Sering kali gejala yang timbul justru mengalami perubahan, seiring berjalannya waktu. Pada beberapa kasus kecelakaan dan bencana alam, setelah lebih dari 12 bulan, persentase pasien yang telah didiagnosis mengidap PTSD justru mengalami penurunan dan perubahan status menjadi trauma biasa.

  • Kenapa trauma yang dialami pasien tidak sembuh seiring berjalannya waktu?

Sejatinya, sebuah memori tak akan pernah benar-benar terlupakan. Sesekali suatu hal akan dengan mudahnya memicu memori lama untuk kembali terngiang, meskipun Anda sudah tak lagi mengingatnya untuk waktu yang sangat lama. Hal ini pun berlaku untuk memori yang ternyata merupakan sebuah trauma masa lalu.

  • Apakah PTSD masih bisa diatasi kalau traumanya terjadi sudah lama sekali?

Terdapat banyak hal yang menyebabkan seseorang menunda penanganan traumanya, namun lama waktu yang berlalu bukanlah menjadi penghalang dalam mengatasi trauma tersebut. Pada beberapa kasus bahkan lebih mudah menangani kasus yang telah lama berlalu dibandingkan kasus yang baru terjadi kurang dari satu tahun yang lalu. Hal ini dikarenakan, masih terlalu melekatnya peristiwa penyebab trauma tersebut dalam benak pasien.

  • Kenapa pasien tak mampu menangani traumanya sendiri?

Mendapatkan bantuan dari orang lain tak lantas mengartikan bahwa Anda gagal menanganinya sendiri. Pada beberapa kasus, mendapatkan bantuan dari orang lain justru membutuhkan ekstra usaha. Adanya budaya seperti pria tak seharusnya mengekspresikan perasaannya, akan menyulitkan penanganan trauma dengan bantuan orang lain.

  • Bisakah mengatasi trauma dengan cara melupakan peristiwa yang jadi penyebab trauma?

Berdasar pada bukti peristiwa, memang melupakan adalah salah satu dari jenis terapi PTSD, namun bukan satu-satunya. Terapi PTSD masih dapat dilakukan dengan memahami apa yang dirasakan tubuh. Pada sebuah kasus, seorang pasien hanya mampu mengingat saat dia dikurung dalam suatu ruangan gelap dalam waktu yang lama, tanpa dapat mengingat kelanjutan dari kisah tersebut. Namun ternyata tubuhnya masih dapat merasakan teror yang ia alami pada waktu itu. Dengan mengkombinasikan 2 hal ini, terapi pun dapat dijalankan.

  • Apakah penderita PTSD berbahaya?

Kenyataannya, menjadi agresif bukan salah satu dari gejala PTSD. Beberapa gejala PTSD adalah seperti bermimpi buruk, kesulitan berkonsentrasi, sebisa mungkin mencegah hal-hal yang berkaitan dengan traumanya, mengalami sensasi peristiwa tersebut terjadi lagi (flashback), merasa bersalah, sulit terlelap, dan sebagainya. Beberapa studi justru mengungkapkan bahwa hanya kurang dari 8 persen pasien PTSD yang diindikasi berlaku anarkis.

  • PTSD bisa diatasi

Gangguan mental seperti PTSD mungkin memang tak dapat disembuhkan secara total, namun tak berarti PTSD tak dapat ditangani. Beberapa penelitian juga telah berhasil menemukan bagaimana penanganan bagi pasien PTSD.

Tujuan dari penanganan ini adalah untuk mengurangi gejala emosi dan gejala fisik yang timbul, serta membantu pasien mengatasi setiap kali pemicu trauma tersebut muncul, seperti melalui pemberian obat antidepresi dan sesekali obat tekanan darah pada gejala tertentu. Penanganan juga bisa dilakukan dengan psikoterapi.

Membutuhkan waktu dalam menangani PTSD karena prosesnya yang berkelanjutan. Namun penelitian masih terus dilakukan untuk menemukan penanganan yang semakin baru dan semakin baik lagi. Meskipun penanganannya juga telah mampu mengurangi beberapa gejala, penanganan lebih cepat akan mencegah semakin banyaknya gejala yang muncul.

5 Penyebab Anak Berpotensi Menjadi Psikopat

5 Penyebab Anak Berpotensi Menjadi Psikopat

duniaserbaserbi.web.id – 5 Penyebab Anak Berpotensi Menjadi Psikopat, Psikopat tidak sama dengan sosiopat meski keduanya sama-sama digolongkan sebagai Antisocial Personality Disorder (ASPD). Seorang psikopat berada di level yang lebih berbahaya dibandingkan sosiopat, dan dapat digolongkan sebagai penderita gangguan kejiwaan (mental illness).

Penyebab seseorang menderita psychopathy memang masih menjadi perdebatan, tetapi banyak psikiatri meyakini bahwa penyebab psychopathy merupakan kombinasi dari beberapa hal yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama hingga mampu mempengaruhi seseorang menjadi psikopat, seperti di bawah ini:

Baca juga : 3 Film Korea yang Mengangkat Kisah Psikopat

1. Pola Asuh yang Mengikutsertakan Kekerasan.
Kesalahan pola asuh saat masih usia dini, menurut studi yang dilansir dari Healthyplace, sangat memengaruhi apakah seseorang akan tumbuh menjadi psikopat atau tidak ketika ia dewasa nanti. Mereka yang mengalami pola asuh kasar, diikuti kekerasan fisik serta verbal akan membuat anak tumbuh menjadi liar serta tidak dapat mentoleransi hal-hal kecil dan melampiaskannya dengan kekerasan.

Dr Harry Croft dari San Antonio Psychiatric Research Center juga mengatakan bahwa anak-anak yang mengalami banyak punishment secara terus menerus memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi seorang psikopat ketika dewasa nanti. Kita harus ingat bahwa perilaku violent yang berulang tanpa menunjukkan adanya rasa bersalah merupakan ciri utama seorang psikopat.

2. Faktor Genetik
Philip Hunter dari The European Molecular Biology Organization, mengatakan bahwa perilaku psikopat bisa diturunkan dari gen orangtua kepada anaknya. Ayah atau ibu yang menderita psychopathy memiliki peluang lebih banyak untuk menurunkan sifat psikopat kepada sang anak dibandingkan dengan faktor lingkungan atau kondisi psikologi si anak.

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Richard Wiebe dari Fitchburg State College di Amerika Serikat. Wiebe mengatakan bahwa ada hubungan antara gen orangtua dengan pembentukan neuron otak bayi hingga menuntun perilaku anak menjadi psikopat.

Di antara semua faktor yang dapat membentuk seseorang menjadi psikopat, faktor genetik merupakan yang paling diyakini menjadi alasan seseorang menjadi psikopat. Faktor biologis genetik ini, menurut Wiebe, juga memiliki keterkaitan dengan sistem emosi anak yang orangtuanya adalah psikopat.

Anak-anak keturunan psikopat biasanya sudah lebih dulu memiliki symptom utama psikopat yakni tidak berfungsinya startle reflex atau gagalnya sistem saraf mereka untuk merespon hal-hal yang dianggap menakutkan bagi orang-orang normal.

Anak-anak keturunan psikopat tidak akan memberikan reaksi kaget atau takut jika diberikan gambar sebuah mayat atau hal lain yang menakutkan, karena sistem saraf tidak mendeteksi gambar yang menurut otak mereka menakutkan.

Lebih bahaya lagi, absennya startle reflex dapat membuat anak-anak keturunan psikopat tersebut tidak mengerti hal-hal yang ternyata salah di mata hukum ataupun perilaku lain yang secara moral tidak etis dilakukan. Akhirnya symptom psikopat lainnya muncul lebih banyak, seperti tidak adanya rasa tanggung jawab dan empati, serta hilangnya ikatan emosional dengan orang lain.

3. Kondisi Psikologi yang Tidak Normal
Seorang psikopat biasanya memiliki sisi psikologi yang jauh berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Mereka lebih cenderung untuk mempunyai ketertarikan berlebih pada satu hal, hingga melebihi batas kewajaran. Bahaya rasa tertarik yang berlebihan ini menimbulkan titik fokus psikopat hanya berpaku pada satu hal yang menjadi goal mereka. Itu membuatnya berusaha melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan tersebut. Termasuk menyakiti orang lain, memanipulasi atau berbohong terus menerus.

Dalam serial kriminal Amerika Serikat berjudul Dexter, digambarkan tokoh utama bernama Dexter Morgan yang senang membunuh binatang kecil dan serangga ketika masih di bangku sekolah dasar. Ia menikmati bagaimana hewan-hewan yang ia bunuh menderita sejenak sebelum akhirnya mati. Rasa tertarik akan sakit yang dialami mahluk hidup lain ini akhirnya menjadi kebutuhan bagi Dexter hingga ketika ia dewasa.

Keinginan membunuh yang dilakukannya tidak hanya kepada hewan. Analogi dari segi psikis yang sama juga terjadi pada mereka yang menderita psychopathy. Kecenderungan untuk tertarik pada satu hal tertentu hingga melebihi batas kenormalan, ditambah absensi dari faktor emosional terhadap orang lain dapat membuat seseorang menjadi psikopat.

4. Tidak Berfungsinya Bagian Otak Amygdala
Fungsi otak memang sangat diperlukan bagi perkembangan individu. Namun Clara Moskowitz dari Live Science menjelaskan kalau psikopat memiliki cara kerja otak yang berbeda. Melalui brain scan dari penderita psychopathy ia menemukan bahwa sistem paralimbik mereka, yaitu bagian otak yang memproses respon emosional, mengalami gangguan.

Pada psikopat, fungsi amygdala atau area otak yang terkait dengan sensasi ketakutan, kurang mengalami aktivitas. Kerusakan bagian otak ini menjadikan psikopat kurang peka terhadap rasa takut dan kebal akan emosi serta rasa penyesalan yang hebat. Fungsi amygdala sangat diperlukan untuk menjaga agar individu tetap mengarah kepada perkembangan moral yang mendasar.

Parahnya, hal ini tidak terjadi pada mereka yang psikopat. Tanpa komando internal dari otak, penderita psychopathy bertindak melawan norma dan hukum karena mereka tidak merasakan penyesalan atau tanggung jawab, separah apapun tindakan yang mereka lakukan.

Meski begitu, sistem paralimbik psikopat dapat berfungsi ketika mereka dalam kesulitan atau merasa terpojok. Studi yang dilakukan Dr Meffert dan Professor Keysers dari Netherlands Institute for Neuroscience membuktikan jika sistem paralimbik psikopat bisa difungsikan kembali ketika penderita psychopathy merasa bahwa “empati” diperlukan dalam rencana mereka. Melalui percobaan Dr. Meffert dan Professor Keysers, pasien psikopat yang dijadikan subjek diminta untuk memberi saran setelah menonton video mengenai violent attack.

Hasilnya, jaringan emosional dari otak psikopat menunjukkan aktivitas yang meningkat. Studi Dr Meffert dan Professor Keysers ini mendukung symptom psikopat bahwa kemampuan observasi penderita psychopathy bisa dibilang luar biasa dan mereka sebenarnya mampu untuk “menghidupkan empati” namun hanya untuk tujuan jangka pendek, yakni memanipulasi korban mereka.

5. Bagian Otak Kortes Frontal Orbital yang Lebih Sedikit
Selain bagian amygdala, bagian otak yang tak kalah penting adalah area kortes frontal orbital. Bagian ini terletak tepat dibawah otak depan kita dan merupakan bagian yang berfungsi dalam proses pengambilan keputusan. Mereka yang perkembangan kortes frontal orbitalnya cenderung lambat akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan ataupun memikirkan rencana jangka panjang.

Michael Koenigs, seorang ahli Neuroscience dari University of Wisconsin-Madison mengatakan peran otak bagian kortes frontal orbital sangat kurang bahkan tak jarang area otak tersebut tidak digunakan bagi mereka yang menderita psychopathy.

Mereka yang psikopat memiliki kelemahan dalam memikirkan rencana jangka panjang dan hal rational choice. Dalam proses pengambilan keputusan biasanya diperlukan kalkulasi mengenai seberapa besar keuntungan serta kerugian yang ditimbulkan dari berbagai pilihan keputusan yang akan kita ambil.

Sayangnya seorang psikopat tidak dapat mengkalkulasikan hal tersebut dikarenakan fungsi area otak yang mengalami gangguan, menimbulkan juga kesalahan dalam reasoning para psikopat. Bagi mereka yang menderita psychopathy, tidak ada keuntungan ataupun kerugian, selama rencana dan tujuan mereka terpenuhi maka psikopat akan tetap melakukan apa yang ia lakukan

3 Film Korea yang Mengangkat Kisah Psikopat

3 Film Korea yang Mengangkat Kisah Psikopat

duniaserbaserbi.web.id – 3 Film Korea yang Mengangkat Kisah Psikopat, Banyak genre drama yang telah bermunculan seiring dengan berkembangnya teknologi. Seperti drama yang mengangkat kisah psikopat di dalamnya. Tidak hanya membuat penonton penasaran, tetapi juga dapat membuat bulu kuduk berdiri

Psikopat merupakan suatu gangguan mental yang penderitanya mengalami antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Seseorang psikopat sadar sepenuhnya akan perbuatannya.

Baca juga : Kisah Anak-anak Psikopat Diusia Muda

Begitu pula dengan drama-drama di bawah ini. Drama-drama berikut menceritakan tentang kisah psikopat-psikopat dengan berbagai kasus pembunuhan yang mereka lakukan.

1. Sensory Couple (2015)
Drama ini dibintangi oleh Park Yoo Chun (Tae Hoo), Shin Se Kyung (Oh Cho Rim/Choi Eun Sol), Nam Goong Min (Kwon Jae Hee), dan Yoon Ji Seo (Yeom Mi). Menceritakan tentang kasus pembunuhan barcode yang dilakukan oleh Nam Goong Min sebagai Kwon Jae Hee.

Kwon Jae Hee merupakan psikopat yang membunuh korbannya dengan mengurungnya di dalam sebuah ruangan tertutup kemudian memberikan gas beracun di dalam ruangan tersebut. Setelah korban itu tewas, barulah Kwon Jae Hee mengukir pergelangan tangannya seperti sebuah kode barcode yang berada pada buku. Target dari pembunuhan Kwon Jae Hee ini tidak beraturan. Korban yang Ia bunuh berasal dari berbagai macam profesi.

Shin See Kyung berperan sebagai Oh Cho Rim/Choi Eun Sol, anak dari sepasang nelayan yang juga menjadi korban dari pembunuhan Kwon Jae Hee. Oh Cho Rim merupakan seorang saksi yang selamat dari pembunuhan kedua orang tuanya.

Ia lari dari rumah setelah melihat kedua orang tuanya tewas tergeletak di lantai. Kwon Jae Hee yang sadar perbuatannya dilihat segera mengejar Oh Cho Rim yang secara tidak sengaja tertabrak sebuah mobil. Inilah awal Oh Cho Rim dapat melihat bau dari matanya.

Park Yoo Chun berperan menjadi Tae Hoo yang merupakan kakak dari seseorang yang tidak sengaja dibunuh karena memiliki nama yang sama dengan saksi dari perbuatan Kwon Jae Hee. Tae Hoo yang bertemu dengan Oh Cho Rim sepakat untuk bekerja sama menangkap Kwon Jae Hee. Begitu juga Kapten Detektif Yeom Mi, yang menjadi kapten dalam kasus tersebut.

Drama ini sukses membuat penasaran dan jengkel terhadap aksi yang dilakukan Kwon Jae Hee. Drama ini juga tayang dengan jumlah 16 episode. Aksi kocak dan romantis dari Oh Cho Rim dan Tae Hoopun menambah keseruan dari drama tersebut.

2. Voice (2017)
Dibintangi oleh Jang Hyuk (Moo Jin Hyuk) dan Lee Ha Na (Kang Kwon Joo) melawan seorang psikopat Kim Jae Wok (Mo Tae Goo). Mo Tae Goo berperan menjadi seorang psikopat yang membunuh rekan atau anak buah perusahaan ayahnya. Ia menjadi wakil direktur dalam perusahaan tersebut.

Pembunuhannya dilakukan dengan memukulkan benda tumpul ke bagian kepalanya sehingga tulang tengkoran korban tersebut pecah. Dalam cerita ini Mo Tae Goo melakukan kebiasaan itu karena waktu kecil pernah melihat ayahnya melakukan hal yang serupa.

Moo Jin Hyuk dan Kang Kwon Joo merupakan keluarga dari korban yang dibunuh oleh Mo Tae Goo. Moo Jin Hyuk kehilangan istri tercintanya dan Kang Kwon Joo kehilangan ayahnya.

Drama ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu kelebihan dalam mendengar suara-suara. Kelebihan ini dimiliki oleh Kang Kwon Joo yang bekerja sebagai call center dalam pusat bantuan darurat. Karena kelebihannya tersebut, Kang Kwon Joo mampu menganalisa bunyi yang ditimbulkan oleh Moo Tae Goo dan berhasil menangkapnya.

Cukup menarik perhatian pecinta drama Korea, drama ini sukses dengan rating yang tinggi. Di tahun 2018 ini, drama ini juga akan menayangkan season 2-nya kembali.

3. Tunnel (2017)
Drama yang sukses dibintangi oleh Choi Jin Hyuk sebagai Park Gwang Ho, Yoon Hyun Min sebagai Kim Sung Jae, Lee Yoo Young sebagai Shin Jae Yi, dan Kim Min Sang sebagai Mook Jin Woo. Mook Jin Woo adalah seorang psikopat yang telah membunuh semenjak ia berusia belasan tahun.

Dalam drama ini Mook Jin Woo membunuh setiap perempuan yang ia lihat memakai stocking. Hal ini disebabkan oleh rasa sakitnya terhadap ibunya yang bekerja sebagai perempuan malam demi menghidupi keluarganya. Ibu Mook Jin Woo selalu memakai stocking ketika ia bekerja. Mook Jin Woo juga menandai setiap korbannya dengan titik di telapak kakinya sebagai bentuk jumlah dari korban yang dibunuhnya.

Drama ini memiliki alur perjalanan waktu yang dialami oleh Park Gwang Ho sebagai pemeran utama. Di tahun 1986 Park Gwang Ho menjadi salah satu tim yang menangani kasus tersebut. Setelah menemukan pelakunya Park Gwang Ho tanpa sadar mengalami perjalanan waktu ke tahun 2017. Kejadian ini terus berulang di tempat yang sama yaitu terowongan.

Di tahun 2017, Park Gwang Ho bertemu dengan anggota tim termudanya di tahun 1986 yang sudah berubah menjadi ketua timnya di tahun itu. Park Gwang Ho juga bertemu dengan anaknya yang sudah menjadi seorang psikolog kriminal serta Kim Sung Jae, yaitu anak seorang pria yang ibunya menjadi korban pembunuhan Mook Jin Woo.

Drama perpaduan dua waktu yang berbeda ini, menjadi daya tarik tersendiri dan sukses dengan rating yang tinggi. Meskipun seperti tidak ada habisnya, drama ini berakhir dengan bahagia. Park Gwang Ho akhirnya dapat kembali ke tahun 1986 serta dapat merawat putrinya dari kecil.

Kisah Anak-anak Psikopat Diusia Muda

Kisah Anak-anak Psikopat Diusia Muda

duniaserbaserbi.web.id – Kisah Anak-anak Psikopat Diusia Muda, Psikopat adalah manusia yang kesulitan mengalami dan tau rasa bersalah atau empati di dalam dirinya. Sebenarnya diantara kita banyak psikopat yang mungkin ada dilingkungan sosial kita, namun, beberapa kasus Psikopat yang disorot adalah kejadian yang menunjukan kasus sadis dari seseorang yang bertindak sadis dan tridak bermoral.

Sebenarnya psikopat tidak selalu melakukan sampai tindakan sadis tersebut, namun kali ini kami akan menceritakan kisah psikopat yang sadis. Berikut adalah kisah psikopat yang dilakukan oleh anak anak yang sedemikian sadis dan tidak bermoral.

Baca juga : Sejarah Singkat tentang Nommensen di Tanah Batak

1. Mary Flora Bell
Bocah perempuan ini melakukan aksi pembunuhan dengan sangat sadis. Ia membunuh dua anak laki-laki di usia 11 tahun. Pembunuhan pertama ia lakukan di bulan Mei tahun 1968. Mary mencekik Martin Brown yang berusia 4 tahun di sebuah rumah kumuh di Scotswood, daerah pinggiran Kota Newcastle, Inggris.

Pembunuhan kedua ia lakukan di bulan Juli di tahun yang sama. Mary dan Norma Joyce Bell mencekik, menggores-gores korban dan memutilasi alat kelamin Brian Howe yang berusia 3 tahun. Mary menjadi pembunuh paling terkenal saat itu, di usianya yang masih 11 tahun membunuh dua anak laki-laki tanpa merasa bersalah.

2. Cristian Fernandez
Tumbuh besar diwarnai dengan kekerasan dan penelantaran membuat bocah ini begitu suram. Nenek yang merawatnya malah bersembunyi dengan kokain di sebuah kamar motel, sementara ibunya ntah berada di mana.

Di masa pertumbuhannya, ia diserang secara seksual oleh sepupu dan dipukuli oleh ayah tirinya. Pada tahun 2011, Cristian didakwa 13 tahun penjara karena melakukan tindak pembunuhan tingkat pertama pada saudara tirinya berusia 2 tahun dan pelecehan seksual pada saudara tirinya berusia 5 tahun.

3. Girl-A (Inisial A)
Pada tanggal 1 Juni 2004, seorang siswi berusia 11 tahun yang namanya disamarkan sebagai ‘Girl A’ telah membunuh teman sekelasnya. Ia membunuh Satomi Mitarai berusia 12 tahun di kelas kosong saat makan siang di sebuah sekolah dasar di Jepang.

Girl-A menggorok leher dan lengan Mitarai dengan pisau lipat. Ia kemudian meninggalkan tubuh Mitarai di lokasi pembunuhan dan kembali ke kelas dengan pakaian berlumuran darah.

4. Alex King dan Derek King Bersaudara
Bermula dari insiden kebakaran di sebuah rumah pada tanggal 26 November 2001. Insiden itu ternyata ada keanehan, petugas pemadam kebakaran menemukan seorang mayat pria duduk di sofa.

Tadinya, para petugas berpikiran kalau pria itu meninggal karena kebakaran. Namun saat diperiksa lebih lanjut, ternyata pria itu meninggal karena trauma benda tumpul. Tengkoraknya retak terbuka dan setengah wajahnya pecah.

Pria itu bernama Terry King berusia 40 tahun. Ia meninggal dibunuh oleh dua putranya yaitu Alex berusia 12 tahun dan Derek yang berusia 13 tahun. Mereka mengaku membunuh karena tidak ingin mendapat hukuman akibat melarikan diri dari rumah.

Terry sebenarnya ayah yang baik, namun suka menghukum anaknya dengan membuat mereka duduk di ruangan sementara ia menatap mereka dalam jangka waktu yang lama. Belakangan diketahui, hukuman yang dilakukan Terry kepada anak-anaknya ini bisa membuat mental mereka hancur secara psikis.

5. Jasmine Richardson
Cinta itu buta. Ungkapan ini sepertinya sangat cocok untuk disandang Jasmine. Hubungan percintaan antara Jasmine dan kekasihnya tidak disetujui oleh keluarganya. Itulah menjadi alasan utama tindakan keji mereka lakukan kepada keluarga Jasmine.

Jasmine yang saat itu berusia 12 tahun membunuh keluarganya bersama dengan kekasihnya Jeremy Steinke yang berusia 23 tahun. Steinke masuk ke rumah Jasmine dan membunuh kedua orangtuanya.

Kemudian Steinke menyuruh Jasmine untuk menusuk adiknya. Jasmine menusuk adiknya sekali dan Steinke mengambil alih dengan menggorok leher adiknya.

Sejarah Singkat tentang Nommensen di Tanah Batak

Sejarah Singkat tentang Nommensen di Tanah Batak

duniaserbaserbi.web.id – Sejarah Singkat tentang Nommensen di Tanah Batak, Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu untuk melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan.

Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen atau I.L. Nommensen; lahir di Nordstrand, Denmark (kini Jerman), 6 Februari 1834 – meninggal di Sigumpar, Toba Samosir, 23 Mei 1918 pada umur 84 tahun) adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara suku Batak, Sumatra Utara. yang berasal dari Jerman, tetapi lebih dikenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya ialah berdirinya sebuah gereja terbesar di tengah-tengah suku bangsa Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Baca juga : Fakta Tentang PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

Masa kecil Ludwig Ingwer Nommensen

Nommensen berasal dari Pulau Noordstrand di Schleswig, yang pada waktu itu merupakan wilayah Denmark. Keluarganya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan, sehingga sejak kecil, Nommensen terbiasa hidup dalam kondisi yang demikian. Maka dari itu, sejak kecil, ia sudah mencari nafkah untuk membantu orangtuanya. Ketika berumur 7 tahun, Nommensen memilih menggembalakan angsa daripada duduk di bangku sekolah. Pada umur 8 tahun, ia mulai mencari nafkah untuk membantu orang tuanya dengan cara menggembalakan domba. Pada usia 9 tahun, ia belajar menjadi tukang atap. Lalu, pada usia 10 tahun, ia bekerja pada seorang petani yang kaya sambil belajar mengerjakan tanah. Ia juga bekerja menuntun kuda yang menarik bajak untuk membajak tanah petani kaya tersebut.

Pada tahun 1846, saat berusia 12 tahun, Nommensen mengalami kecelakaan. Sewaktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, ia ditabrak kereta kuda yang menggilas kakinya sampai patah dan keadaan yang demikian memaksanya berbaring di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Waktu itu, dalam doanya, Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji, jika ia disembuhkan, maka ia akan memberitakan injil kepada orang kafir. Setelah kakinya sembuh, Nommensen kembali menjadi buruh tani untuk membantu keluarganya setelah kematian ayahnya.

Pada usia 20 tahun, Nommensen berangkat ke Barmen (sekarang Wuppertal) untuk melamar menjadi penginjil. Selama empat tahun ia belajar di seminari zending Lutheran Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Sesudah lulus, ia kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 1861. Ia ditugaskan oleh RMG ke Sumatra dan tiba pada tanggal 14 Mei 1862 di Padang. Ia memulai misinya di Barus dengan harapan akan mendapatkan izin untuk menetap di daerah Toba. Namun, pemerintah kolonial tidak mengizinkan dengan alasan keamanan. Oleh sebab itu, ia bergabung dengan penginjil-penginjil lain yaitu misionaris Pdt. Heyni dan Pdt. Klammer yang telah berada di daerah Sipirok yang setelah Perang Padri dimasukkan dalam wilayah Hindia Belanda. Di situ, sebagian dari penduduk sudah memeluk agama Islam sehingga kemajuannya lambat. Setelah berdiskusi dengan kedua misionaris ini, disepakati pembagian wilayah pelayanan, bahwa Nommensen akan bekerja di Silindung.

Kunjungan pertama ke Tarutung dilakukan pada 11 November 1863. Pada kunjungan pertama ini, Nommensen diterima oleh Ompu Pasang (Ompu Tunggul) kemudian tinggal di rumahnya yang daerahnya masuk dalam kekuasaan Raja Pontas Lumban Tobing. Dari sini Nommensen kemudian kembali ke Sipirok untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelayanannya.

Pada pertengahan tahun berikutnya, 1864, Nommensen dengan membawa semua perlengkapannya berangkat kembali ke Tarutung, dan tiba di Tarutung pada tanggal 7 Mei 1864. Nommensen kembali ke rumah Ompu Pasang (Ompu Tunggul), tetapi dia ditolak. Di Onan Sitahuru, Nomensen duduk dan merenung di bawah sebatang pohon beringin (hariara) untuk memikirkan apa yang akan dia perbuat. Nommensen lalu pergi ke desa lain dan sampai ke di desa Raja Aman Dari Lumban Tobing.

Nommensen berharap Raja Aman Dari Lumbantobing dapat mengizinkannya tinggal di atas lumbung padinya. Akan tetapi Raja Aman Lumbantobing sedang pergi kedesa lain membawa isterinya yang sedang sakit keras. Melalui seorang utusan, Nommensen menyampaikan niatnya ini kepada Raja Aman Lumbantobing, akan tetapi Raja Aman Lumbantobing menolak. Nommensen kemudian meminta utusannya ini untuk kembali menemui Raja Aman Lumbantobing untuk kedua kalinya dengan pesan, “bahwa sekembalinya Raja Aman ke desanya, penyakit istrinya akan hilang”. Raja Aman kemudian berkata, apabila perkataan Nomensen itu benar, maka dia akan mengizinkan Nomensen tinggal dirumahnya. Penyakit istri Raja Aman sembuh. Raja Aman Lumbantobing kemudian mengizinkan Nomensen tinggal di rumahnya.

Akan tetapi, pada mulanya Raja Pontas Lumban Tobing tidak mau menerima Nommensen. Dia berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung supaya menolak Nommensen. Sebaliknya, Raja Aman Dari Lumban Tobing, juga berusaha memengaruhi Raja-Raja di Silindung untuk menerimanya. Sehingga masyarakat di sekitar Silindung terbagi dua dalam hal penerimaan terhadap Nommensen. Walaupun masyarakat Silindung terbagi dua (ada yang menerima dan ada yang menolak Nommensen), Nommensen tetap berada di Tarutung dan memulai pelayanannya mengabarkan Injil.

Satu tahun kemudian, 27 Agustus 1865, Nommensen dapat melakukan pembabtisan pertama kepada satu orang Batak. Bahkan di kemudian hari, Raja Pontas Lumban Tobing yang dulunya menolak Nommensen, meminta supaya dia dan keluarganya dibaptis. Pada saat itu juga Raja Pontas meminta supaya Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja. Setelah Raja Pontas dan keluarganya masuk Kristen, masyarakat Silindung makin banyak masuk Kristen.

Sejalan dengan pertumbuhan Gereja di Silindung, Nommensen membuka Sekolah Guru di Pansur Napitu. Lulusan sekolah ini dijadikan menjadi guru Injil dan Guru Sekolah. Di kemudian hari, sekolah ini dipindahkan ke Sipaholon. Kemudian, Nommensen membuka pos Penginjilan baru di Sigumpar. Dari sanalah dia menyebarkan Injil bersama para pembantunya ke seluruh Toba Holbung dan Samosir.

Ketika diberi izin oleh pemerintah kolonial, maka RMG menunjuk Nommensen untuk membuka pos zending baru di Silindung. Kehadiran zending ditantang oleh sebagian raja dan juga oleh sebagian besar penduduk karena mereka takut akan terkena bencana jika menyambut seorang asing yang tidak memelihara adat. Selain itu, sikap menolak para raja disebabkan pula oleh kekhawatiran bahwa dengan kedatangan orang-orang kulit putih ini menjadi perintis jalan bagi pemerintahan Belanda yang berkuasa pada waktu itu. Sekalipun demikian, Nommensen berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (terjemahan dari Yerusalem – Kampung Damai). Pada tahun 1873, ia mendirikan gedung gereja, sekolah, dan rumahnya di Pearaja dan hingga kini, Pearaja tetap menjadi pusat Gereja HKBP.

Karena kehadiran para misionaris tidak disetujui oleh sebagian raja, terutama oleh mereka yang berpihak pada Si Singamangaraja XII, maka pada bulan Januari 1878, Singamangaraja sebagai raja yang, menurut pengakuannya sendiri, memiliki kedaulatan atas Silindung, memberi ultimatum kepada para zendeling RMG untuk segera meninggalkan Silindung. Pada akhir Januari, Nommensen meminta kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim tentara untuk segera menaklukkan Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka. Pada awal tahun 1878, pasukan pertama di bawah pimpinan Kapten Scheltens bersama dengan Kontrolir Hoevell menuju Pearaja dan disambut oleh Nommensen. Antara Februari hingga Maret, 380 pasukan tambahan dan 100 narapidana didatangkan dari Sibolga. Februari 1878, ekspedisi militer untuk menumpaskan pasukan Singamangaraja dimulai. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I. Keduanya menjadi penunjuk jalan dan penerjemah, serta malah dianggap ikut berperan dalam menentukan kampung-kampung mana yang akan dibakar. Sesudah ekspedisi militer berakhir, puluhan kampung, termasuk markas Singamangaraja di Bangkara dibumihanguskan. Atas jasa membantu pemerintah Belanda, pada 27 Desember 1878, Nommensen dan Simoneit menerima surat penghargaan dari pemerintah Belanda, ditambah uang tunai sebanyak 1000 gulden.

Setelah Silindung dan Toba ditaklukkan dalam Perang Toba I, Batakmission (zending Batak) mengalami kemajuan dengan pesat, khususnya di daerah Utara. Nommensen berhasil meyakinkan ratusan raja untuk berhenti mengadakan perlawanan. Tentunya, hal ini dapat terjadi setelah Nomensen meyakinkan kembali masyarakat bahwa ia bukan kaki tangan Belanda dan kedatangannya untuk membawa kebaikan. Hal ini tampak dalam tindakan keseharian Nommensen bagi orang-orang Batak waktu itu. Contoh beberapa raja yang akhirnya bersikap positif ialah Raja Pontas Lumbantobing (Sipahutar), Ompu Hatobung (di Pansur Napitu), Kali Bonar (di Pahae), Ompu Batu Tahan (di Balige), dan lainnya. Pada tahun 1881, Nommensen memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, dan ia tinggal di sana sampai akhir hayatnya. Pada tahun kematiannya, Batakmission (cikal bakal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) mencatat jumlah orang Batak yang dibaptis telah mencapai 180.000 orang.

Untuk menjaga tatanan hidup dari ribuan orang yang baru masuk menjadi Kristen, Nommensen menyediakan bagi mereka suatu tatanan yang baru. Pada tahun 1866, ditetapkanlah sebuah Aturan Jemaat. Aturan itu meliputi kehidupan orang Kristen di dalam jemaat maupun dalam lingkungan kelarga menyangkut ibadah, perkawinan, hukum, dan pejabat gerejawi. Di samping itu, Nommensen menerjemahkan kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak. Ia menerbitkan cerita-cerita Batak dan menerbitkan cerita-cerita PL. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, dan menebus hamba-hamba dari tuannya. Jasa Nommensen juga dikenang oleh orang Batak antara lain karena usahanya di bidang pendidikan dengan membuka sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan guru di sekolah, RMG bersama Nommensen membuka pendidikan guru.

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG, pada tahun 1881,mengangkat Nommensen sebagai Ephorus. Jabatan ini diembannya sampai akhir hidupnya. Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Nommensen mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Bonn. Pada tahun 1911, ia memperoleh penghargaan Kerajaan Belanda dengan diangkat sebagai Officier in de Orde van Oranje-Nassau. Ia pun akhirnya mendapat gelar sebagai Rasul Orang Batak.

Kematian

Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya.