Kisah Misteri Pendaki Hilang

Kisah Misteri Pendaki Hilang

Kisah Misteri Pendaki Hilang – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang kisah mistis pendaki gunung  yang hilang dan nyaris tak ditemukan.

Mendaki gunung menjadi salah satu hobi yang menantang bagi sebagian orang.
Tak jarang ada fenomena yang terjadi saat momen mendaki, yang paling sering adalah pertemuan dengan “penunggu” atau makhluk halus yang menempati gunung.
Bahkan, tak jarang bertemu dengan arwah pendaki lain yang telah hilang beberapa hari, bulan, ataupun tahun di gunung itu.
Baca Juga: Bolehkah Berkurban Dengan Menyembelih Hewan Betina ? Ini Jawaban Buya Yahya
Berikut Jurnal Presisi merangkum kisah mistis, yang santer terdengar tentang “penunggu” gunung.
Pertemuan dengan Pendaki Wanita yang hilang satu bulan di Gunung Semeru.
Gunung Semeru termasuk gunung tertinggi di Indonesia. Terletak di Jawa Timur, tepatnya antara Kabupaten Lumajang dan Malang.
Sekumpulan pecinta alam dari Madiun. Sesuai dengan jadwal, merencanakan ekspedisi ke Gunung Semeru, persiapan telah selesai dan langsung memulai pendakian.
Mereka terdiri dari lima orang dan tak lama, bertemu dengan seorang pendaki wanita, tidak ada yang aneh pada sosok tersebut.
Tetapi, Pendaki wanita itu mengaku sendiri dan ingin menuju puncak, karena merasa kasihan. Akhirnya, dia pun diajak bergabung dengan kelompok 5 pendaki ini.
Tak terasa mereka berada di salah satu pos dekat dengan puncak. Namun, karena malam telah tiba, mereka memutuskan untuk berkemah.
Malam tiba dan mereka pun terlelap, ada satu pendaki yang berjaga membawa anjing untuk mengawasi binatang buas.
Namun, saat tengah malam, sang penjaga melihat pendaki wanita itu keluar dari tendanya dan berjalan ke arah hutan.
Dengan keadaan bingung dan khawatir, ia pun mengikuti pendaki wanita tersebut, namun, tak berapa lama, dia kehilangan bayangan wanita itu.
Merasa panik, ia bergegas ke kemah lalu membangunkan teman-temannya.
Teman-teman yang kaget dengan ceritanya kemudian bergegas mencari pendaki wanita itu.
Mereka tak dapat melihat apa-apa karena gelap dan kemudian mereka memutuskan untuk mencarinya pagi hari.
Saat pagi menjelang, mereka bersiap dan membagi kelompok dalam dua tim. Tim pertam mencari hingga bibir jurang Semeru.
Mereka melihat sebuah ransel yang mirip dengan ransel milik pendaki wanita itu. Karena penasaran, akhirnya mereka menuruni jurang.
Sesampainya di dasar juranh, mereka menemukan tas ransel dan jasad yang sudah membusuk.
Awal Berdirinya Lawang Sewu

Awal Berdirinya Lawang Sewu

Awal Berdirinya Lawang Sewu – Nama lawang sewu sudah tidak asing lagi didenger, terutama bagi masyarakat sekitaran kota Semarang. Monumen peninggalan Belanda ini menyimpan banyak kisah-kisah menyeramkan.

Namun sedikit sekali yang mengetahui mengenai bagaimana sejarah sebenarnya dari Lawang Sewu, apa yang melatarbelakangi pembuatannya serta cerita-cerita unik yang menyertai Lawang Sewu hingga saat ini.
Lawang Sewu bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “seribu pintu”. Sebutan sewu (seribu dalam bahasa Jawa), merupakan penggambaran masyarakat Semarang tentang banyaknya jumlah pintu yang dimiliki Lawang Sewu, meski dalam kenyataannya jumlah pintu yang ada tidak mencapai seribu, namun lebih tepatnya 429 buah lubang pintu. Namun Lawang Sewu memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar yang membuat jendela tersebut nampak seperti pintu.

Tampilan Bangunan

Gedung utama Lawang Sewu memiliki tiga lantai lengkap dengan dua sayap bangunan yang melebar ke bagian kanan dan kiri. Kalau kita memasuki gedung utama, kita akan menemui tangga besar membentang di hadapan kita yang menuju ke lantai dua. Di antara tangga terdapat kaca gelas berukuran besar dengan gambar dua wanita muda Belanda. Semua bentuk bangunan, pintu, hingga jendela mengambil ciri khas arsitektur Belanda.

Selain pintu dan jendela berukuran besar, masing-masing pintu memiliki daun pintu masing-masing dengan jumlah total sebanyak 1200 daun pintu. Sebagian pintu memiliki dua daun pintu dan ada juga yang memiliki 4 daun pintu yang terdiri dari 2 daun pintu ayun ditambah 2 daun pintu geser.

Awal Berdiri

Lawang Sewu mulai dibangun oleh Belanda pada 27 Februari 1904 dan rampung pada tahun 1907. Pada awalnya gedung ini berfungsi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta milik Belanda dengan nama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj atau disingkat NIS. Perusahaan inilah yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia menghubungkan Semarang, Surakarta dan Yogyakarta. Jalur pertama yang dibangun adalah Semarang Temanggung pada tahun 1867.

Direksi NIS memercayakan perancangan gedung kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag. Keduanya berdomisili di Amsterdam.Semua proses perancangan bangunan dilakukan di Belanda. Setelah rancangan selesai, gambar-gambar rancangan tersebut kemudian dibawa ke Kota Semarang.

Kantor pusat NIS tersebut adalah sebuah bangunan besar dua lantai dengan bentuk menyerupai huruf “L”. Pembangunan kantor pusat NIS di Semarang karena adanya kebutuhan yang cukup besar untuk mendirikan banyak bangunan untuk publik dan perumahan akibat perluasan daerah jajahan, desentralisasi administrasi kolonial dan pertumbuhan usaha swasta.

Baca Juga:Beberapa Mitos Dunia Teknologi yang Dipercayai Banyak Orang

Tak sesuai harapan

Pada awalnya kegiatan perkantoran perusahaan kereta api milik Belanda berpusat di sini. Namun karena berkembangnyajaringan perkeretaapian yang demikian pesat pada saat itu menuntut terus ditambahnya personil teknis dan tenaga administrasi untuk mengikuti bisa mengikuti perkembangan.

Hal ini membuat kantor NIS di Semarang tidak lagi memadai untuk menampung semua staf NIS. Berbagai jalan sudah ditempuh seperti misalnya menyewa sejumlah bangunan milik perseorangan untuk solusi sementara justru membuat pekerjaan makin tidak efisien. Belum lagi letak Stasiun Semarang NIS dekat dengan rawa membuat hal-hal seperti kebersihan dan kesehatan menjadi pertimbangan penting.

Maka diusulkanlah pilihan lain, yakni membangun kantor administrasi untuk pegawai NIS di lokasi yang baru. Pilihan jatuh pada sebidang tanah yang berada di pinggir kota dekat dengan kediaman Residen Hindia Belanda. Lokasi tepatnya berada di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Jalan Pemuda dan jalan raya menuju Kendal.

Beberapa-Mitos-Dunia-Teknologi-yang-Dipercayai-Banyak-Orang

Beberapa Mitos Dunia Teknologi yang Dipercayai Banyak Orang

duniaserbaserbi – Ada beberapa mitos yang terus diyakini banyak orang di seluruh dunia. Mitos itu tak hanya berkutat pada legenda di suatu tempat, melainkan juga merambah ke sektor teknologi.

Banyak orang yakin, dengan melakukan sejumlah cara bisa membahayakan atau bermanfaat bagi benda-benda berteknologi yang Anda miliki. Mulai dari penggunaan baterai hingga ponsel pintar.
Sah-sah saja untuk meyakini hal tersebut. Namun para ahli teknologi yang ada di bidang kompeten tidak setuju dengan hal itu.
1. Memasukan Baterai ke Lemari Es
Setelah berjam-jam bermain pokemon di Gameboy dan baterai sudah mulai habis namun tak ada uang untuk membeli kembali, anak-anak percaya memasukan baterai ke lemari es bisa mengisi kembali daya.
“Sesi permainan saya yang intens tiba-tiba terhenti saat gim saya melemah. Merasa kalah, saya menyimpan baterai saya ke dalam freezer meski itu tak berpengaruh apa-apa,” ujar seorang anak.
Tidak mengherankan, hal ini tidak pernah berhasil. Faktanya: memasukkan baterai Anda ke dalam freezer malah memperpendek usia mereka. Ini disebabkan oleh suhu dalam baterai akan turun dan ketika Anda mengeluarkannya dari freezer, suhu akan naik dengan cepat. Beberapa sumber mengklaim bahwa ini dapat membuat baterai meledak, sementara yang lain menyebut perubahan suhu mendadak menyebabkan kondensasi yang mengarah pada korosi. Singkatnya, jangan masukkan baterai Anda ke dalam freezer.
2. Mengisi Daya Ponsel Semalaman Bisa Buat Baterai Rusak
Berapa kali Anda mendengar bahwa jika meletakkan telepon di pengisi daya semalam, akan merusak baterai Anda?
Untungnya, banyak orang yang mulai melupakan mitos ini. Namun, bagi Anda yang masih percaya ini benar, sangat disayangkan.
Smartphone dapat memperlambat laju pengisian ketika mendekati 100 persen dan sekali di sana tidak akan kelebihan beban daya.
3. Duduk Dekat TV Menyala Bisa Hangatkan Badan
“Saya ingat menempelkan wajah saya ke layar sambil menikmati kartun favorit saat masih kecil,” ujar seorang narasumber.
“Setiap kali saya melakukan ini, ibu saya akan memarahi dan meminta saya untuk pergi dari sana secepat mungkin,” tambahnya.
Namun, ini semua hanyalah mitos. Itu tidak akan benar-benar menghangatkan tubuh Anda.
4. Mitos ini terus bergulir dari mulut ke mulut.
Apakah mitos ini didasarkan pada beberapa kebenaran atau hanya semacam legenda urban yang orang suka ulangi kepada teman-teman mereka agar terlihat menarik untuk dibahasi? Jelas ini tidak benar.
Setelah Anda membaca artikel ini, luangkan waktu sejenak untuk mencari beberapa video ponsel yang meledak di saku orang. Itu terjadi.
Tetapi mengisi daya telepon Anda dan menggunakannya pada saat yang sama tidak menempatkan Anda pada risiko ponsel Anda meledak.
Mitos-Korban-Perkosaan-Tidak-Pernah-Orgasme

Mitos Korban Perkosaan Tidak Pernah Orgasme

duniaserbaserbi – Wacana tentang perkosaan kerap kali menempatkan perempuan di posisi pelik. Sekalipun dalam mayoritas kasus perkosaan perempuan menjadi korban, mereka malah sering kali mesti bergelut dengan berbagai kendala yang mempersulit proses advokasi diri.

Stigmatisasi masyarakat tentang cara berperilaku serta berpenampilan perempuan, plus pelumrahan perkawinan korban dengan pelaku untuk menghindari cemooh dan menutupi momok menjadi ganjalan bagi para korban untuk menegakkan keadilan bagi mereka. Belum lagi kendala material yang dibebankan kepada para korban perkosaan seperti biaya visum, padahal tidak semua korban berkemampuan finansial mumpuni.

Perkosaan yang telah lama terjadi dan berada dalam konteks ikatan perkawinan pun membuat para korban sulit menghadirkan bukti, sementara trauma psikologis terus menghantui dan mesti ditanggung sendiri oleh mereka. Kendala-kendala ini membuat banyak kasus perkosaan yang tidak tercantum dalam laporan lembaga-lembaga advokasi perempuan atau dibawa ke meja hijau.

Hal lain yang lazim diamini mayoritas masyarakat dan merupakan kesalahkaprahan adalah bahwa perempuan yang diperkosa dan mengalami orgasme berarti menikmati hubungan seks paksa tersebut. Sangat sedikit laporan atau studi yang menguak fakta bahwa ada perempuan-perempuan korban perkosaan yang mengalami orgasme.

Pertama, dari sisi korban, umumnya mereka malu mengakui hal tersebut lantaran kuatnya anggapan salah kaprah masyarakat. Alih-alih menyalahkan pelaku yang jelas melanggar batasan pribadinya, para korban justru menyalahkan diri sendiri karena orgasme yang dirasakannya saat peristiwa traumatis tersebut terjadi.

Kedua, tidak hanya masyarakat awam saja yang melanggengkan anggapan semacam ini, di kalangan pakar pun, terdapat pihak-pihak yang menyatakan orgasme tidak mungkin terjadi pada korban perkosaan. Andrew Pari, psikoterapis yang telah dua dekade membantu penyembuhan mental korban-korban perkosaan, menyampaikan dalam situs National Association of Social Workers California pandangan salah seorang terapis seks bersertifikasi.

“Saya pikir, perempuan yang mengalami perkosaan tidak mungkin mendapatkan orgasme. Orgasme membutuhkan penyerahan diri dan perasaan aman. Orgasme bukan seperti menekan tombol. Bagi perempuan, mencapai orgasme membutuhkan serangkaian kondisi kompleks, bukan hanya respons fisik. Satu pikiran negatif saja bisa membatalkan siklus respons [dalam berhubungan seks],” demikian pandangan terapis itu.

Pada kesempatan lain, Pari mendapatkan surat berbasis pengalaman dan bernada keluhan dari salah seorang perempuan yang sedang menjalani pelatihan sebagai fasilitator lembaga yang menangani kasus perkosaan. Dalam surat itu dinyatakan, fasilitator seniornya yang merupakan terapis juga berkata tidak pernah mendengar laporan korban perkosaan mengalami orgasme.

Baca Juga : Kehidupan Mistis Malam Hari di Taman Suropati

Lebih jauh lagi, fasilitator senior itu berpendapat bila seorang korban mencapai orgasme artinya mereka tidak diperkosa. Si penulis surat merasa tidak sepakat dengan pandangan tersebut dan merasa seniornya malah menyebarkan mitos yang membuat sebagian korban yang menghubungkan diri dengan wacana perkosaan dan orgasme semakin tidak nyaman.

Menanggapi pandangan-pandangan dominan yang tak melulu benar semacam ini, Pari berargumen bahwa ada temuan-temuan di mana korban merasakan orgasme saat diperkosa. Perasaan terangsang dan orgasme merupakan proses normal dan adaptif yang terjadi pada tubuh manusia saat berhadapan dengan kondisi intimidatif. Menyadari bahwa hal ini adalah proses alamiah yang mungkin terjadi, Pari menolak anggapan bahwa korban yang diperkosa dan mencapai orgasme menikmati hal tersebut.

Argumen Pari ini diperteguh dengan satu dari sedikit sekali kajian ilmiah yang dilakukan oleh Levin dan Berlo (2004) tentang orgasme pada kasus perkosaan. Dalam tulisan yang dimuat di Journal of Clinical Forensic Medicine 11, mereka memaparkan serangkaian argumen mengapa perempuan diperkosa dapat mencapai orgasme.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, Levin dan Berlo menjelaskan tentang orgasme: titik puncak dalam aktivitas seksual yang dipicu oleh rangsangan yang menyebabkan manifestasi fisik (perubahan fisiologis) dan mental yang bersifat subjektif.

Perubahan fisiologis pada perempuan saat terangsang yang umum ditemukan adalah peningkatan tekanan darah, kecepatan bernapas, aliran darah yang menyebabkan puting mengeras, dan munculnya lubrikasi atau cairan pada vagina. Sementara ketika mencapai orgasme, lazimnya perempuan mengalami kontraksi otot panggul yang konstan selama beberapa saat.

Kondisi orgasme perempuan lebih sulit diukur dibanding laki-laki yang mayoritas hampir berbarengan dengan ejakulasi. Ada perempuan yang mencapai orgasme begitu intens sampai bisa tidak sadarkan diri sesaat, ada pula yang menangkap perubahan dalam dirinya saat terjadi orgasme.

Kepekaan seseorang sampai bisa mencapai orgasme pun beragam, ada yang dengan sedikit rangsangan fisik dapat mencapai klimaks, sementara lainnya tidak begitu mudah merasakan orgasme hanya dengan kontak fisik dan mesti melibatkan rangsangan psikologis. Levin dan Berlo juga menambahkan argumen mereka tentang orgasme bahwa kesadaran tidak melulu dibutuhkan untuk menciptakan orgasme karena bahkan orang yang tertidur pun dapat merasakannya.

Di satu sisi, memang benar kemunculan orgasme melibatkan banyak faktor mental dan fisik. Namun di lain sisi, pada kasus-kasus hubungan seks tanpa-persetujuan yang melibatkan ancaman dan kekerasan, faktor-faktor yang mengontrol orgasme tersebut bisa tidak berlaku. Para perempuan yang mudah sekali terangsang misalnya, dalam kondisi terintimidasi pun dapat mengeluarkan cairan vagina, bahkan mencapai orgasme.

 

Sehubungan dengan munculnya cairan vagina ini, Levin dan Berlo menyatakan ada mekanisme otonom dalam tubuh perempuan korban perkosaan yang mengaktivasi peningkatan aliran darah di area genital. Peningkatan aliran darah inilah yang memicu lubrikasi.

Dalam pandangan mereka, lubrikasi yang terjadi pada kejadian perkosaan merupakan bentuk pertahanan diri dari rasa sakit saat penetrasi dilakukan pelaku. Dapat dikatakan bahwa rangsangan genital yang memicu lubrikasi dan orgasme mungkin terjadi kepada perempuan sekalipun tidak ada rangsangan seksual pada sentral (otak) secara sadar.

Studi tentang orgasme pada korban-korban perkosaan yang dilakukan Levin dan Berlo dikuatkan dengan testimoni-testimoni segelintir tenaga medis yang pernah mendapat laporan tak lazim dari pasien-pasien korban perkosaan. Tiga tenaga medis menyatakan pernah mendapat kesaksian korban-korban perkosaan yang mengalami orgasme saat kekerasan seksual itu menimpa mereka.

Salah satu perawat senior di salah satu klinik konsultasi seksual dan relasi perkawinan di Inggris juga menyatakan bahwa 1 dari 20 perempuan yang datang ke tempatnya bekerja mengaku mengalami orgasme saat dipaksa berhubungan seks.

Meskipun penelitian Levin dan Berlo telah menawarkan pandangan alternatif tentang orgasme dan perkosaan, perjalanan panjang untuk menggeser anggapan dominan, stigmatisasi, dan penyalahan korban masih harus ditempuh. Hambatan kembali lagi kepada pembuktian karena sangat sedikit kasus perkosaan melibatkan saksi dan sangat tinggi kecenderungan korban untuk tidak melaporkan kejadian sesegera mungkin, bisa karena trauma atau rasa malu yang sangat besar.

Di ujung tulisannya, Levin dan Berlo mengungkapkan, bila ketidakberdayaan yang dirasakan korban tidak bisa dibuktikan, pelaku perkosaan bisa memanfaatkan ketidakmampuan korban untuk menolak hubungan seks paksa sebagai suatu bukti persetujuan melakukan hal tersebut.

Kehidupan-Mistis-Malam-Hari-di-Taman-Suropati

Kehidupan Mistis Malam Hari di Taman Suropati

duniaserbaserbi – Sesekali datanglah malam ke Taman Suropati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Taman cantik di depan rumah dinas Gubernur DKI ini punya kehidupan malam, ada dunia lain yang menarik diselami.

Ini bukan dunia lain atau kehidupan malam yang bagaimana, tapi dunia saat taman menjadi pilihan bersantai dan melepas penat. Bila Anda di kota-kota besar dunia mungkin hal biasa, tapi di Jakarta ini sesuatu yang baru.

Kisah Mistis Taman Suropati

Meski berada dotengah kota yang modern dan ramai di dikunjungi oleh penduduk, Taman Suropati ternyata masih menyimpan kisah mistis. Ada tersebar desas desus soal kisah-kisah misteri dari makhluk-makhluk tak kasat mata.

Beberapa pedagang berkisah pernah mengalami peristiwa ganjil di lokasi taman ini. Pedagang yang mangkal di sekitar taman menceritakan kisah yang membuat bulu Kuduk merinding ketika mendengarnya.

Salah satu kisah adalah soal rombongan anak-anak yang sering muncul ketika hujan reda di sore hari. Mereka muncul mendadak dari Jalan Basuki, menyebrang dan masuk ke taman. Namun ketika ditengok kembali, anak-anak itu sudah tak tampak. Bahkan bekas orang berjalan pun tidak ada.

Ada juga kisah lain tentang suara suara tangisan yang terdengar pilu dan menyayat hati. Suara ini konon sering didengar oleh pengunjung yang kebetulan melintas di bawah pohon mahoni besar di tengah taman.

Aada pula cerita tentang sosok ibu tua berkerudung yang muncul tengah malam dan duduk menyendiri di keremangan taman. Si ibuk tua tampak seperti sibuk menabur nabur kan sesuatu.

Baca Juga : Misteri Menarik Angka 15

Berbeda dengan taman lainnya, di Taman Suropati ini benar-benar tempat rehat, olahraga malam atau mencari makanan. Tidak ada kemesuman, lagipula ada pos polisi di taman ini.

Saat detikcom berkunjung pada Kamis (19/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, Taman Suropati terlihat ramai. Ada pasangan, ada kelompok anak muda, semua kumpul di taman. Mereka menikmati udara malam Kota Jakarta, sambil menyantap makanan ringan mulai dari sate, nasi goreng, atau tahu gejrot yang tukangnya banyak di seputaran Taman Suropati.

Pengamen juga datang menemani dengan lagu-lagu terkini, tenang pengamen ini sopan-sopan tidak memaksa. “Biasanya sampai pagi mas,” terang seorang pedagang.

Malam semakin larut, beberapa orang malam berolahraga di taman dengan berjalan di atas batu untuk pijat kaki. Tawa renyah terdengar dari kelompok anak muda yang bercengkerama. Mungkin Taman Suropati adalah salah satu tempat yang memberikan nafas lain di kehidupan malam di Jakarta. Anda tertarik menengok?

1 2 3 7