Beberapa-Mitos-Dunia-Teknologi-yang-Dipercayai-Banyak-Orang

Beberapa Mitos Dunia Teknologi yang Dipercayai Banyak Orang

duniaserbaserbi – Ada beberapa mitos yang terus diyakini banyak orang di seluruh dunia. Mitos itu tak hanya berkutat pada legenda di suatu tempat, melainkan juga merambah ke sektor teknologi.

Banyak orang yakin, dengan melakukan sejumlah cara bisa membahayakan atau bermanfaat bagi benda-benda berteknologi yang Anda miliki. Mulai dari penggunaan baterai hingga ponsel pintar.
Sah-sah saja untuk meyakini hal tersebut. Namun para ahli teknologi yang ada di bidang kompeten tidak setuju dengan hal itu.
1. Memasukan Baterai ke Lemari Es
Setelah berjam-jam bermain pokemon di Gameboy dan baterai sudah mulai habis namun tak ada uang untuk membeli kembali, anak-anak percaya memasukan baterai ke lemari es bisa mengisi kembali daya.
“Sesi permainan saya yang intens tiba-tiba terhenti saat gim saya melemah. Merasa kalah, saya menyimpan baterai saya ke dalam freezer meski itu tak berpengaruh apa-apa,” ujar seorang anak.
Tidak mengherankan, hal ini tidak pernah berhasil. Faktanya: memasukkan baterai Anda ke dalam freezer malah memperpendek usia mereka. Ini disebabkan oleh suhu dalam baterai akan turun dan ketika Anda mengeluarkannya dari freezer, suhu akan naik dengan cepat. Beberapa sumber mengklaim bahwa ini dapat membuat baterai meledak, sementara yang lain menyebut perubahan suhu mendadak menyebabkan kondensasi yang mengarah pada korosi. Singkatnya, jangan masukkan baterai Anda ke dalam freezer.
2. Mengisi Daya Ponsel Semalaman Bisa Buat Baterai Rusak
Berapa kali Anda mendengar bahwa jika meletakkan telepon di pengisi daya semalam, akan merusak baterai Anda?
Untungnya, banyak orang yang mulai melupakan mitos ini. Namun, bagi Anda yang masih percaya ini benar, sangat disayangkan.
Smartphone dapat memperlambat laju pengisian ketika mendekati 100 persen dan sekali di sana tidak akan kelebihan beban daya.
3. Duduk Dekat TV Menyala Bisa Hangatkan Badan
“Saya ingat menempelkan wajah saya ke layar sambil menikmati kartun favorit saat masih kecil,” ujar seorang narasumber.
“Setiap kali saya melakukan ini, ibu saya akan memarahi dan meminta saya untuk pergi dari sana secepat mungkin,” tambahnya.
Namun, ini semua hanyalah mitos. Itu tidak akan benar-benar menghangatkan tubuh Anda.
4. Mitos ini terus bergulir dari mulut ke mulut.
Apakah mitos ini didasarkan pada beberapa kebenaran atau hanya semacam legenda urban yang orang suka ulangi kepada teman-teman mereka agar terlihat menarik untuk dibahasi? Jelas ini tidak benar.
Setelah Anda membaca artikel ini, luangkan waktu sejenak untuk mencari beberapa video ponsel yang meledak di saku orang. Itu terjadi.
Tetapi mengisi daya telepon Anda dan menggunakannya pada saat yang sama tidak menempatkan Anda pada risiko ponsel Anda meledak.
Mitos-Korban-Perkosaan-Tidak-Pernah-Orgasme

Mitos Korban Perkosaan Tidak Pernah Orgasme

duniaserbaserbi – Wacana tentang perkosaan kerap kali menempatkan perempuan di posisi pelik. Sekalipun dalam mayoritas kasus perkosaan perempuan menjadi korban, mereka malah sering kali mesti bergelut dengan berbagai kendala yang mempersulit proses advokasi diri.

Stigmatisasi masyarakat tentang cara berperilaku serta berpenampilan perempuan, plus pelumrahan perkawinan korban dengan pelaku untuk menghindari cemooh dan menutupi momok menjadi ganjalan bagi para korban untuk menegakkan keadilan bagi mereka. Belum lagi kendala material yang dibebankan kepada para korban perkosaan seperti biaya visum, padahal tidak semua korban berkemampuan finansial mumpuni.

Perkosaan yang telah lama terjadi dan berada dalam konteks ikatan perkawinan pun membuat para korban sulit menghadirkan bukti, sementara trauma psikologis terus menghantui dan mesti ditanggung sendiri oleh mereka. Kendala-kendala ini membuat banyak kasus perkosaan yang tidak tercantum dalam laporan lembaga-lembaga advokasi perempuan atau dibawa ke meja hijau.

Hal lain yang lazim diamini mayoritas masyarakat dan merupakan kesalahkaprahan adalah bahwa perempuan yang diperkosa dan mengalami orgasme berarti menikmati hubungan seks paksa tersebut. Sangat sedikit laporan atau studi yang menguak fakta bahwa ada perempuan-perempuan korban perkosaan yang mengalami orgasme.

Pertama, dari sisi korban, umumnya mereka malu mengakui hal tersebut lantaran kuatnya anggapan salah kaprah masyarakat. Alih-alih menyalahkan pelaku yang jelas melanggar batasan pribadinya, para korban justru menyalahkan diri sendiri karena orgasme yang dirasakannya saat peristiwa traumatis tersebut terjadi.

Kedua, tidak hanya masyarakat awam saja yang melanggengkan anggapan semacam ini, di kalangan pakar pun, terdapat pihak-pihak yang menyatakan orgasme tidak mungkin terjadi pada korban perkosaan. Andrew Pari, psikoterapis yang telah dua dekade membantu penyembuhan mental korban-korban perkosaan, menyampaikan dalam situs National Association of Social Workers California pandangan salah seorang terapis seks bersertifikasi.

“Saya pikir, perempuan yang mengalami perkosaan tidak mungkin mendapatkan orgasme. Orgasme membutuhkan penyerahan diri dan perasaan aman. Orgasme bukan seperti menekan tombol. Bagi perempuan, mencapai orgasme membutuhkan serangkaian kondisi kompleks, bukan hanya respons fisik. Satu pikiran negatif saja bisa membatalkan siklus respons [dalam berhubungan seks],” demikian pandangan terapis itu.

Pada kesempatan lain, Pari mendapatkan surat berbasis pengalaman dan bernada keluhan dari salah seorang perempuan yang sedang menjalani pelatihan sebagai fasilitator lembaga yang menangani kasus perkosaan. Dalam surat itu dinyatakan, fasilitator seniornya yang merupakan terapis juga berkata tidak pernah mendengar laporan korban perkosaan mengalami orgasme.

Baca Juga : Kehidupan Mistis Malam Hari di Taman Suropati

Lebih jauh lagi, fasilitator senior itu berpendapat bila seorang korban mencapai orgasme artinya mereka tidak diperkosa. Si penulis surat merasa tidak sepakat dengan pandangan tersebut dan merasa seniornya malah menyebarkan mitos yang membuat sebagian korban yang menghubungkan diri dengan wacana perkosaan dan orgasme semakin tidak nyaman.

Menanggapi pandangan-pandangan dominan yang tak melulu benar semacam ini, Pari berargumen bahwa ada temuan-temuan di mana korban merasakan orgasme saat diperkosa. Perasaan terangsang dan orgasme merupakan proses normal dan adaptif yang terjadi pada tubuh manusia saat berhadapan dengan kondisi intimidatif. Menyadari bahwa hal ini adalah proses alamiah yang mungkin terjadi, Pari menolak anggapan bahwa korban yang diperkosa dan mencapai orgasme menikmati hal tersebut.

Argumen Pari ini diperteguh dengan satu dari sedikit sekali kajian ilmiah yang dilakukan oleh Levin dan Berlo (2004) tentang orgasme pada kasus perkosaan. Dalam tulisan yang dimuat di Journal of Clinical Forensic Medicine 11, mereka memaparkan serangkaian argumen mengapa perempuan diperkosa dapat mencapai orgasme.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, Levin dan Berlo menjelaskan tentang orgasme: titik puncak dalam aktivitas seksual yang dipicu oleh rangsangan yang menyebabkan manifestasi fisik (perubahan fisiologis) dan mental yang bersifat subjektif.

Perubahan fisiologis pada perempuan saat terangsang yang umum ditemukan adalah peningkatan tekanan darah, kecepatan bernapas, aliran darah yang menyebabkan puting mengeras, dan munculnya lubrikasi atau cairan pada vagina. Sementara ketika mencapai orgasme, lazimnya perempuan mengalami kontraksi otot panggul yang konstan selama beberapa saat.

Kondisi orgasme perempuan lebih sulit diukur dibanding laki-laki yang mayoritas hampir berbarengan dengan ejakulasi. Ada perempuan yang mencapai orgasme begitu intens sampai bisa tidak sadarkan diri sesaat, ada pula yang menangkap perubahan dalam dirinya saat terjadi orgasme.

Kepekaan seseorang sampai bisa mencapai orgasme pun beragam, ada yang dengan sedikit rangsangan fisik dapat mencapai klimaks, sementara lainnya tidak begitu mudah merasakan orgasme hanya dengan kontak fisik dan mesti melibatkan rangsangan psikologis. Levin dan Berlo juga menambahkan argumen mereka tentang orgasme bahwa kesadaran tidak melulu dibutuhkan untuk menciptakan orgasme karena bahkan orang yang tertidur pun dapat merasakannya.

Di satu sisi, memang benar kemunculan orgasme melibatkan banyak faktor mental dan fisik. Namun di lain sisi, pada kasus-kasus hubungan seks tanpa-persetujuan yang melibatkan ancaman dan kekerasan, faktor-faktor yang mengontrol orgasme tersebut bisa tidak berlaku. Para perempuan yang mudah sekali terangsang misalnya, dalam kondisi terintimidasi pun dapat mengeluarkan cairan vagina, bahkan mencapai orgasme.

 

Sehubungan dengan munculnya cairan vagina ini, Levin dan Berlo menyatakan ada mekanisme otonom dalam tubuh perempuan korban perkosaan yang mengaktivasi peningkatan aliran darah di area genital. Peningkatan aliran darah inilah yang memicu lubrikasi.

Dalam pandangan mereka, lubrikasi yang terjadi pada kejadian perkosaan merupakan bentuk pertahanan diri dari rasa sakit saat penetrasi dilakukan pelaku. Dapat dikatakan bahwa rangsangan genital yang memicu lubrikasi dan orgasme mungkin terjadi kepada perempuan sekalipun tidak ada rangsangan seksual pada sentral (otak) secara sadar.

Studi tentang orgasme pada korban-korban perkosaan yang dilakukan Levin dan Berlo dikuatkan dengan testimoni-testimoni segelintir tenaga medis yang pernah mendapat laporan tak lazim dari pasien-pasien korban perkosaan. Tiga tenaga medis menyatakan pernah mendapat kesaksian korban-korban perkosaan yang mengalami orgasme saat kekerasan seksual itu menimpa mereka.

Salah satu perawat senior di salah satu klinik konsultasi seksual dan relasi perkawinan di Inggris juga menyatakan bahwa 1 dari 20 perempuan yang datang ke tempatnya bekerja mengaku mengalami orgasme saat dipaksa berhubungan seks.

Meskipun penelitian Levin dan Berlo telah menawarkan pandangan alternatif tentang orgasme dan perkosaan, perjalanan panjang untuk menggeser anggapan dominan, stigmatisasi, dan penyalahan korban masih harus ditempuh. Hambatan kembali lagi kepada pembuktian karena sangat sedikit kasus perkosaan melibatkan saksi dan sangat tinggi kecenderungan korban untuk tidak melaporkan kejadian sesegera mungkin, bisa karena trauma atau rasa malu yang sangat besar.

Di ujung tulisannya, Levin dan Berlo mengungkapkan, bila ketidakberdayaan yang dirasakan korban tidak bisa dibuktikan, pelaku perkosaan bisa memanfaatkan ketidakmampuan korban untuk menolak hubungan seks paksa sebagai suatu bukti persetujuan melakukan hal tersebut.

Kehidupan-Mistis-Malam-Hari-di-Taman-Suropati

Kehidupan Mistis Malam Hari di Taman Suropati

duniaserbaserbi – Sesekali datanglah malam ke Taman Suropati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Taman cantik di depan rumah dinas Gubernur DKI ini punya kehidupan malam, ada dunia lain yang menarik diselami.

Ini bukan dunia lain atau kehidupan malam yang bagaimana, tapi dunia saat taman menjadi pilihan bersantai dan melepas penat. Bila Anda di kota-kota besar dunia mungkin hal biasa, tapi di Jakarta ini sesuatu yang baru.

Kisah Mistis Taman Suropati

Meski berada dotengah kota yang modern dan ramai di dikunjungi oleh penduduk, Taman Suropati ternyata masih menyimpan kisah mistis. Ada tersebar desas desus soal kisah-kisah misteri dari makhluk-makhluk tak kasat mata.

Beberapa pedagang berkisah pernah mengalami peristiwa ganjil di lokasi taman ini. Pedagang yang mangkal di sekitar taman menceritakan kisah yang membuat bulu Kuduk merinding ketika mendengarnya.

Salah satu kisah adalah soal rombongan anak-anak yang sering muncul ketika hujan reda di sore hari. Mereka muncul mendadak dari Jalan Basuki, menyebrang dan masuk ke taman. Namun ketika ditengok kembali, anak-anak itu sudah tak tampak. Bahkan bekas orang berjalan pun tidak ada.

Ada juga kisah lain tentang suara suara tangisan yang terdengar pilu dan menyayat hati. Suara ini konon sering didengar oleh pengunjung yang kebetulan melintas di bawah pohon mahoni besar di tengah taman.

Aada pula cerita tentang sosok ibu tua berkerudung yang muncul tengah malam dan duduk menyendiri di keremangan taman. Si ibuk tua tampak seperti sibuk menabur nabur kan sesuatu.

Baca Juga : Misteri Menarik Angka 15

Berbeda dengan taman lainnya, di Taman Suropati ini benar-benar tempat rehat, olahraga malam atau mencari makanan. Tidak ada kemesuman, lagipula ada pos polisi di taman ini.

Saat detikcom berkunjung pada Kamis (19/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIB, Taman Suropati terlihat ramai. Ada pasangan, ada kelompok anak muda, semua kumpul di taman. Mereka menikmati udara malam Kota Jakarta, sambil menyantap makanan ringan mulai dari sate, nasi goreng, atau tahu gejrot yang tukangnya banyak di seputaran Taman Suropati.

Pengamen juga datang menemani dengan lagu-lagu terkini, tenang pengamen ini sopan-sopan tidak memaksa. “Biasanya sampai pagi mas,” terang seorang pedagang.

Malam semakin larut, beberapa orang malam berolahraga di taman dengan berjalan di atas batu untuk pijat kaki. Tawa renyah terdengar dari kelompok anak muda yang bercengkerama. Mungkin Taman Suropati adalah salah satu tempat yang memberikan nafas lain di kehidupan malam di Jakarta. Anda tertarik menengok?

Kisah-Misteri-Kapal-Karam-di-Laut

Kisah Misteri Kapal Karam di Laut

duniaserbaserbi – Sejak dulu, wilayah Nusantara dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran penting dunia. Mungkin kita tidak akan tahu persis sejak kapan sejarah itu bermula. Tapi menurut catatan dari Museum Nasional Indonesia, setidaknya sejak abad ke-7 Masehi berbagai kepulauan Nusantara sudah banyak didatangi oleh pedagang Eropa.

Di era tersebut, seluruh arus transportasi global dilakukan lewat jalur laut. Baik itu kapal dagang maupun kapal perang, semuanya bisa dipastikan sering lalu-lalang di perairan Nusantara. Tapi tidak semua kapal mampu berlayar dengan mulus. Banyak pula kapal yang terkena celaka dan tenggelam di tengah perjalanan.

Kuburan Kapal-Kapal Nahas

Menurut catatan East India Company (EIC), selama abad ke-16 sampai abad ke-18 saja ada sekitar 7.000 kapal Inggris yang berlayar ke lautan Nusantara dan tidak berhasil pulang kembali. Sebagian besar dari kapal tersebut dinyatakan karam bersama muatannya, entah itu disebabkan hantaman badai ataupun karena serangan perompak dan kapal musuh.

Nasib serupa juga banyak terjadi pada kapal-kapal milik Belanda, Portugis, Amerika, Jerman, Perancis, Belgia, Cina termasuk kapal tradisional milik suku-suku Nusantara sendiri. Kalau semuanya ditotalkan, menurut data UNESCO ada sekitar 20.000 kapal yang karam dan hilang di lautan kita.

Pada akhirnya angka-angka tersebut memang sulit diverifikasi. Tapi yang jelas, setelah berabad-abad menjadi jalur pelayaran dan perniagaan dunia, wajar saja jika perairan Indonesia yang sangat luas itu menjadi “kuburan” bagi banyak kapal nahas.

Laut

 

 

 

 

 

 

 

 

Menunggu Kehadiran Archaeologist Diver

Terlepas dari dokumen sejarah yang dimiliki negara-negara lain, pemerintah Indonesia sendiri mengklaim bahwa saat ini ada 463 titik kapal karam yang sudah berhasil dipetakan di seluruh Nusantara. Dari jumlah itu baru sekitar 50 titik yang disurvey, dan 10 situs di antaranya sudah diangkat ke darat.

Artinya, masih ada sekitar 400 kapal karam yang terendam di bawah lautan dan terselubung misteri. Apakah kapal-kapal itu berisi harta karun kuno, atau menyimpan kisah masa lalu yang mengejutkan, belum ada seorang pun yang tahu.

Baca Juga : Misteri Menarik Angka 15

Seandainya situs-situs tersebut bisa digali dan diungkap, tentu ini akan menjadi aset berharga bagi Indonesia. Selain bisa menjadi sumber data bagi kajian sejarah dan kebudayaan dunia, bangkai-bangkai kapal itu juga bisa diolah menjadi destinasi shipwreck diving yang sangat menarik dan bernilai ekonomis.

Hanya saja, hal tersebut nampaknya masih sulit diwujudkan. Selain membutuhkan biaya dan teknologi tinggi, penelitian situs kapal karam juga memerlukan banyak sumber daya manusia yang ahli di bidang maritime archaeology, khususnya dalam underwater archaeology dan nautical archaeology. Sedangkan pada kenyataannya, penyelam profesional yang menguasai maritime archeology itu masih sangat langka di Indonesia.

Dengan begitu, mari kita berharap agar ke depannya akan lahir banyak archaeologist diver yang mampu menguak misteri ratusan kapal karam di Indonesia. Selain bisa menambah situs shipwreck diving untuk kepentingan pariwisata, diharapkan para penyelam ilmuwan ini juga bisa memperkaya pemahaman kita tentang sejarah dan kebudayaan Nusantara, bahkan dunia. Semoga!

Misteri-Menarik-Angka-15

Misteri Menarik Angka 15

duniaserbaserbi – Pada kesempatan kali ini kami akan menjelaskan filosofi dari angka 15. Angka 15 yang sebenarnya menurut kebanyakan orang merupakan hal biasa saja, namun nampaknya tidak terjadi dalam diri penulis. Sebab penulis melihat bahwasanya angka 15 memiliki “ruh” tersendiri.

Bagi penulis angka 15 merupakan”dwitunggal” yang berarti terdapat dua elemen yang sebenarnya saling terkait. Elemen pertama adalah angka 1, dan elemen yang kedua adalah angka 5. Elemen pertama mengacu kepada sang penggerak pertama yang tidak digerakkan, sebagaimana juga yang dikatakan oleh Aristoteles dan kemudian penulis afirmasi. Siapakah gerangan? Dialah Tuhan semesta alam. Kasih sayangnya yang universal, kasih sayangnya yang tidak tersegmentasi kedalam golongan agama tertentu.

Idenya adalah yang agung menyatukan ide-ide kecil dimuka bumi. Ia menunjukkan kebesarannya, kemahakuasaannya, dan kemahaagungannya kepada kita, hewan, tumbuhan, dan segala makhluk ciptaannya. Dengannya kita belajar, dengannya kita mengetahui. Sebab Tuhan adalah pengetahuan yang amat luas dan indah untuk diketahui.

Menikmati alam berarti mengagumi ciptaanNya. Memikirkan alam berarti merenungi kemahaagungannya. Dengan berpikir, kita akan lebih bijaksana. Dengan berpikir kita akan lebih dewasa. Angka 1 melambangkan suatu kekuatan, tujuan yang hakiki, dan yang menerangi jalan.

Tanpanya, kita tidak dapat melihat kendatipun mata kita masih berfungsi secara sempurna. Angka 1 membuat kita kuat, membuat kita mampu, untuk melewati rasa sakit dan perih. Angka 1 adalah pembebasan, angka yang membawa kita kepada kebahagiaan, angka yang membawa kita untuk keluar dari penjara kenistaan. Angka 1 adalah baik, angka 1 adalah mulia. Aku kagum kepadamu wahai angka 1

Selanjutnya masih terdapat angka 5 yang juga sebagai jalannya untuk menuju angka 1. Penulis menafsirkan angka 5 terdiri atas 5 entitas, yaitu : (1) rajin, (2) pandai, (3) cerdas, (4) tangguh, dan (5) berjiwa sosial.

Pembahasan pertama adalah rajin. Siapa yang tidak suka dengan perilaku ini? Nampaknya orang di dunia ini sebagian besar menyukai perilaku rajin, kendatipun yang melihatnya adalah orang yang tidak rajin. Tak jarang orang yang mendambakan perilaku ini kepada orang yang terkasihnya.

Biasanya orang banyak yang suka dan mengapresiasi sikap ini. Entah itu rajin membaca, rajin menulis, rajin belajar, rajin menabung, rajin merawat tanaman, dan rajin-rajin lain yang berkonotasi dengan makna positif (baik). Sehingga apabila sudah memiliki perilaku demikian, maka efeknya adalah pandai, seperti yang akan kita bahas dalam poin kedua.

Poin kedua akan kita bahas mengenai sikap pandai. Pandai merupakan efek daripada kita kita rajin, pandai bukankalah bawaan lahir, namun hal ini dapat dilatih. Penulis yakin, setiap orang diberi jatah yang sama berupa sesuatu yang sangat mulia bernama “akal.” Namun sayang sekali banyak dari mereka yang menyia-nyiakannya. Mungkin sebagian dari kita umat muslim banyak yang beristigfar karena tidak shalat atau melewati waktu shalat.

Namun apakah kita pernah beristigfar lantaran kita telah lupa untuk belajar dan berpikir? Bukankah sang panutan kita mengajarkan untuk selalu belajar sepanjang hayat kita? Lalu apa makna belajar yang sesungguhnya? Teman-teman, belajar tidaklah terikat pada ruang dan waktu yang sifatnya fisika. Belajar adalah tidak akan pernah berakhir untuk mempertanyakan segala sesuatu dan mencari jawabannya atas setiap pertanyaan kita. Belajar adalah mengerti, memahami, dan dengannya kita menjadi pandai. Sehingga entitas ke-dua dari angka 5 adalah pandai.

Entitas ketiga dari angka 5 adalah cerdas. Cerdas berbeda dengan pandai, cerdas sifatnya spontanitas. Misalnya saja, apabila kita diberikan kesempatan yang sifatnya bonafide atau menjanjikan, lalu akankah kita abaikan? Sehingga, diambil atau tidaknya hal tersebut merupakan bentuk kecerdasan. Kecerdasan adalah soal ketepatan, lain halnya dengan pandai yang merupakan hasil kebiasaan, sehingga apabila kita sudah melakukannya secara rutin, atau setidaknya sering, maka tentu kita akan pandai, dan mahir dibidang yang kita tekuni.

Nampaknya rajin, pandai, dan cerdas saja tidak cukup untuk menuju ke yang 1. Maka dalam poin keempat ini, kita harus tangguh. Tangguh artinya kita kebal terhadap segala sesuatu yang datang dari luar diri kita. Entah itu kegagalan yang menimpa diri kita, entah itu cacian dan makian orang-orang disekitar kita. Sehingga untuk mencapai yang 1, sifat tangguh sangatlah diperlukan.

Baca Juga : Perayaan Unik Bulan Imlek

Keempat entitas tersebut memang sudah cukup, namun belum lengkap rasanya kalau kita hanya merasakan tujuan tersebut untuk diri kita semata. Sehingga entitas terakhir dari angka 5 adalah “berjiwa sosial.” Orang yang hebat sesungguhnya merupakan orang yang selalu ingin memberi dan bukan diberi.

Orang hebat itu bukan soal kepemilikannya harta benda yang sangat berlimpah, namun ia paham dan sadar apa yang ia akan ia lakukan dengan sesuatu yang dimilikinya itu. Sehingga dengan demikian, ia telah berkontribusi untuk membahagiakan orang lain juga dirinya sendiri. Sehingga angka 15 yang merupakan gabungan dari angka 1 dan 5 , sangat luar biasa dan sarat akan makna.

Sebenarnya sudah lama penulis ingin publish mengenai filosofi angka 15 ini, namun karena banyak kerjaan, sehingga baru bisa sekarang. Semoga pembaca dapat terhibur penjelasan ini. Terimakasih dan salam sejahtera

1 2 3 21